3   +   10   =  
Bagikan

Jakarta menjadi sorotan utama perputaran perekonomian Indonesia. Saat ini telah banyak upaya yang dilakukan masyarakat Jakarta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Memang benar bahwa kita dapat bertahan hidup dengan cukup memenuhi sandang dan pangan saja. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Ada hal-hal lain yang perlu kita penuhi seperti biaya Pendidikan, Kesehatan, Budaya, Sosial, dan lainnya.

Harga kebutuhan hidup setiap tahun dan setiap era pasti berubah-ubah, bahkan semakin meningkat. Di sisi lain, kita pasti mengharapkan peningkatan ekonomi yang lebih baik dari kondisi sebelumnya, sehingga upaya apapun akan dilakukan demi memenuhi kebutuhan tersebut.

Oleh sebab itulah, setiap masyarakat memiliki beban dalam menanggung kebutuhan ekonomi rumah tangga yang beragam. Banyak orang yang sudah tidak peduli, “apakah pekerjaan yang dilakukannya halal atau haram?” Satu hal yang begitu mereka takuti yaitu, mati kelaparan. Bagaimana tidak, tempat yang biasa digunakan pedagang kaki lima berjualan saat ini telah ditutup. Meskipun, masih ada yang tetap berdagang di pinggiran taman kota Jakarta.

Pandemi Datang, Pedagang Kaki Lima yang Malang

Hiruk pikuk Ibukota Jakarta sangat terasa sulit selama Pandemi Covid-19. Ruang publik dan tempat keramaian telah ditutup sementara, di mana biasanya tempat keramaian seperti, Taman Kota atau Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA), kerap menjadi salah satu tempat mencari sesuap nasi bagi rakyat jelata pinggiran kota pada khususnya.

Meskipun Peluang-peluang lain juga telah terbuka bagi mereka para pedagang online yang sudah siap dan pandai dalam berjualan dengan ponsel pintar nya. Namun, tidak semua warga Jakarta mampu melakukannya. Ditambah lagi adanya persaingan pasar di market place yang sudah sangat ramai dan berat bagi mereka para pemula pedagang online.

Pandemi Covid-19 yang melanda negara-negara di dunia tidak hanya mengganggu kestabilan di bidang kesehatan, namun juga sangat berdampak pada kondisi ekonomi negara tersebut. Indonesia merupakan salah satu negara yang paling terdampak. Beberapa pekan lalu, saya sempat mewawancarai seorang pedagang kaki lima di sekitar Kota Tua yang pendapatannya menurun drastis selama pandemi ini.

Baca Juga  Pemuda-pemudi Hati-hati Dikibuli Globalisasi

“Susah Mba. Sekarang kalau mau dagang juga dibatasi sama SATPOL PP. Sementara kebutuhan di rumah makin bertambah, kebutuhan pokok dapur juga mahal” begitu ujarnya.

Kajian terkait penanganan Covid-19 di DKI Jakarta terus diperbaharui. Perkembangan untuk penanganan virus ini terus dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama oleh para pakar di bidangnya masing-masing. Tujuannya tentu agar semua koordinasi dan sinegri yang dilakukan dapat mencegah penyebaran Covid-19 dan memutus mata rantai virus ini di DKI Jakarta.

Baca Juga  Sikap Pemuda Dunia terhadap Covid-19

Beberapa artikel yang saya baca banyak membicarakan tentang penanggulangan Covid-19 dengan tetap menerapkan 3M yaitu, mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. Namun pada kenyataan, masih banyak warga Jakarta yang kurang sadar dengan pentingnya menjaga dirinya dari pandemi Covid-19. Banyak dari mereka yang mengabaikan protokol kesehatan.

Di sisi lain, saya juga jarang sekali melihat berita yang membahas hal-hal seperti apa yang dilakukan para pasien Covid-19 yang telah berhasil sembuh dalam melawan virus tersebut? Misalnya, kebiasaan gaya hidupnya, makanannya, dan apa saja vitamin yang di konsumsi oleh para pasien Covid-19 tersebut.

Patuh Pada 3M Demi Percepat Penanganan Covid-19 di Jakarta

Kali ini, saya mengajak teman-teman semua dan terkhusus anak muda untuk lebih peduli dengan warga dan lingkungan di sekitar kita. Mari kita bersama-sama memberikan edukasi dan melakukan penyuluhan pentingnya mentaati protokol kesehatan kepada mereka. Tentunya, kita juga perlu memastikan terlebih dahulu bahwa kita adalah orang yang taat dengan protokol kesehatan yang ada. Hanya dengan cara itulah kita dapat memberikan kemaslahatan kepada setiap kita warga negara, terutama masyarakat DKI Jakarta.

​Kita adalah anak-anak muda yang masih memiliki kesempatan panjang untuk mengabdikan diri demi kesejahteraan kehidupan bersama, maka sudah seharusnya kita meningkatkan potensi bakat dalam diri kita, meningkatkan pendidikan dan berada di setiap ruang-ruang produktif seperti LSM dan Organisasi Kepemudaan yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan.

​Dengan harapan bersama, ketika masyarakat sudah sadar akan pentingnya mentaati protokol kesehatan, maka pedagang kaki lima juga tetap bisa berdagang dengan tertib dalam menjalankan dan ikut mengajak para konsumen untuk menerapkan 3M, terutama pada saat interaksi jual-beli. Semakin cepat kita sadar untuk terus menjaga kesehatan dan patuh pada protokol kesehatan, semakin cepat pula kita dapat menangani pandemi Covid-19.

Jika keadaan itu sudah terwujud, bukan hanya para pedagang kaki lima yang akan merasakan dampak positifnya. Namun, kita semua akan merasakannya dan berbahagia atas itu. Yuk, semangat dalam melawan pandemi bersama-sama!

Baca Juga  Demonstrasi Asik ala Gen Z

 

Rominta Yani Siregar adalah mahasiswi Pasca Sarjana Ilmu Politik di Universitas Nasional. Ia merupakan anggota Perkumpulan Warga Muda dan masuk dalam Bidang Perencanaan Program. Saat ini, ia juga tergabung sebagai anggota Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI) DKI Jakarta.


Bagikan