0   +   7   =  
Bagikan

Di era globalisasi sekarang ini, isu mengenai demokrasi masih relevan untuk diperbincangkan karena setidaknya ada dua alasan pokok.

Pertama, pergeseran kekuasaan dengan melakukan redefinisi atas peran negara. Kedua, menguatnya tatanan neoliberal yang menciptakan kemiskinan dan ketimpangan dalam skala luas.

Demokrasi masih jadi perbincangan semua negara dan mengklaim ”demokratis”. Meskipun, baru sekedar melaksanakan standar umum demokrasi, pergantian pemimpin secara berkala melalui pemilihan umum.

Globalisasi mengakibatkan transformasi politik. Dalam hal ini, globalisasi melahirkan dua kelompok masyarakat, yang pertama (the have not) merupakan kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup informasi. Dan kelompok sebaliknya (the have) kelompok masyarakat yang mempunyai banyak informasi.

“Globalisasi melahirkan dua kelompok masyarakat, yang pertama (the have not) merupakan kelompok masyarakat yang tidak mempunyai cukup informasi. Dan kelompok sebaliknya (the have) kelompok masyarakat yang mempunyai banyak informasi.”

Pada situasi semacam itu. Kalian sempat berfikir tidak, bagaimana nasib demokrasi di Indonesia saat bonus demografi? Apakah dengan banyaknya jumlah anak muda menjadikan Indonesia dibanjiri kritik, atau sebaliknya Indonesia akan kaya solusi?

Dari globalisasi menuju gombalisasi

Menurut Barry K. Gills, dalam Democrting Globalization and Globalzing Democracy, neoliberalisme ekonomi telah menciptakan kondisi untuk kritik sosial lebih lanjut guna memperjuangkan kembali kebebasan dan demokrasi, sudah pasti partisipasi masyarakat yang dipengaruhi karena perubahan-perubahan tersebut.

Sisi lainnya, tatanan neoliberal telah membuat akses informasi semakin timpang di tengah  masyarakat, termasuk dikalangan anak-anak muda.

Globalisasi telah banyak membuat perubahan besar, biasanya yang pertama berkaitan yaitu kekuasaan politik dan otonomi negara. Perubahan yang dimaksud adalah rezim HAM, internasionalisasi keamanan, perubahan lingkungan, kebocoran lapisan ozon atau pemanasan global, revolusi bidang komunikasi dan teknologi , dan deregulasi pasar-pasar yang memperkuat kekuasaan kapital.

Baca Juga  Enam Cara Mengelola Relawan Masa Depan

Menurut David Held, pda  Regulating globalization? The reinvention politics “global transformations”, perubahan di atas berangkat dari pemahaman globalisasi sebagai proses memanifestasikan kedalam tranformasi organisasi dari hubungan-hubungan transaksi sosial, yang dinilai berdasarkan tingkat extensity, intensity, dan velocity. Dampaknya membawa aliran-aliran transcontinental atau interagional dan jaringan aktivitas, interaksi dan penggunaan kekuasaan.

Adapun globalisasi mempunyai dua faktor sebagai penghambat budaya dan tatanan sistem negara yang membajak demokrasi politik, atau juga mendorong terbentuknya otonomi dan kesetaraan yang meluas.

“Globalisasi bisa jadi semata-mata hanya pertarungan ideologi dan kepentingan komunitas internasional yang tengah dihadapkan pada isu baru seperti “tatanan dunia baru”.

Globalisasi bisa jadi semata-mata hanya pertarungan ideologi dan kepentingan komunitas internasional yang tengah dihadapkan pada isu baru seperti “tatanan dunia baru”.

Paham kelompok minoritas juga sudah mulai menampakan diri kepermukaan untuk meminta hak dan pembelaan atas kepentingan kelompoknya.

Hal ini menjadikan penilaian seseorang hanya dilihat dengan faham yang bertentangan atau layak dijadikan kelompok. Ini juga bisa disebut rasisme dimana sudah tidak ada kebebasan atas pilihannya sendiri.

Maka dari itu negara harus mencari pilihan kebijakan atas dasar ideologi dan nilai-nilai luhur negara tanpa terpaksa mengambil bentuk kolaborasi dan kerja sama internasional.

Kebijakan ini adalah bentuk kedaualatan yang harus dibedakan bagi kemampuan para pemimpin negara maupun agen negara dalam mempersiapkan bonus demografi, supaya tidak menjadi bencana.

Oleh karena itu dalam menjemput bonus demografi kaum anak muda harus merasa penting melihat suatu visi demokrasi yang tidak hanya menjamin hak-hak politik warga negara, akan tetapi juga hak-hak sosial-politik. Intinya, kaum anak muda seperti milenial dan gen z wajib melek politik agar tidak dikebuli berkali-kali di era yang katanya globalisasi atau gombalisasi.

Baca Juga  12  Wabah Paling Mencekam Dalam Sejarah Dunia Selain Corona, Kenapa Milenial dan Gen Z Harus Tahu?

Bagikan