5   +   6   =  
Bagikan

Pemudi-pemuda sekalian, buat kamu yang sekarang sedang SMA nih pernah ga sih mau pake sepatu putih? Atau rambut gondrong dikit langsung dicukur di tengah lapangan oleh guru BP? Kita sapa juga kamu-kamu yang sekarang sedang kuliah nih. Pernah ga sih demo protes kebijakan rektor? Atau sekedar debat dosen yang kamu kamu rasa salah pemikirannya?

Fenomena yang tadi kita bahas merupakan bentuk patologi sosial (penyakit sosial). Kalau kata Sosiolog nih, Kartini Kartono (2011), patologi sosial adalah semua tingkah laku yang bertentangan dengan norma kebaikan, stabilitas lokal, pola kesederhanaan, moral, hak milik, solidaritas kekeluargaan, hidup rukun bertetangga, disiplin, kebaikan, dan hukum formal.

Buat kamu kamu yang sekarang lagi kuliah. Pernah denger ga sih larangan Rambut Gondrong? Aria Wiratma Yudhistira (2010) mengulas dalam bukunya “Dilarang Gondrong”, di Era Orde Baru rambut gondrong dianggap Rezim saat itu sebagai simbol atau perlambang instabilitas dan ancaman keamanan. Banyak orang yang tertangkap tindak pidana berambut gondrong dan kemudian digunduli. Sampai ada Bakoperagon (Badan Koordinasi Pemberantasan Rambut Gondrong). Hal tersebut dilakukan di sekolah, kampus, bahkan razia jalanan.

Akan tetapi jika kita menempelkan perilaku nakal sebagai penyakit sosial, rasanya terlalu menindas. Kita harus mencoba menelusuri bahwa secara psikologis, setiap manusia selalu penasaran dengan zona nakal yang kadang berlawanan dengan zona nyaman. Kalau ga gitu, kakek kita bersama, Om Adam ga akan dong nakal makan buah apel atau khuldinya? Yang akhirnya bikin beliau diskorsing Tuhan untuk hidup di luar zona nyamannya (bumi).

Manusia selalu ingin berekspresi untuk menunjukkan eksistensinya sebagai individu kalau kata Filsuf Jean Paul Sartre. Nah ini berkaitan sebenarnya dengan persoalan yang kita bahas kali ini, bro sis. Nakal ga selalu bermotif kriminal atau masalah sosial. Terkadang kita butuh wadah berekspresi, makanya kadang kita nakal. Warga Muda pengen kasih empat tempat nih biar nakal kamu kamu itu keren! Cekidot bro sis.

Baca Juga  OK Boomer, Picu Perang Generasi?

Nakallah kalian pada korupsi!

Udah pake tanda seru berarti perintah ya, bro sis. Ini wajib jadi perintah untuk masing-masing jiwa kita sih. Kalian tau ga berdasarkan reportase kompas, Indonesia berada di peringkat 96 dalam indeks persepsi korupsi dunia. Dari 180 negara di dunia, posisi tersebut memalukan bro sis! Bahkan kita berada di bawah Timor Leste. Korupsi ini yang menggerogoti keuangan negara kita guys. Penyebab kemiskinan kita secara langsung salah satunya karena korupsi. Selain kalian harus nakal mengkritisi para koruptor di negara ini, kalian juga harus berjanji kalian ga akan jadi anak baik yang bermental korup, ya guys!

Nakal pada penindasan itu wajib

Nah, ekspresi perlawanan kita terhadap penindasan boleh kita sebut nakal guys. Kalian tau kasus semen kendeng? Nah upaya untuk merampas hak hidup, berupa tempat tinggal atau mata pencaharian kerapkali dilakukan oleh pihak negara dan swasta. Buat kalian yang masih kuliah atau SMA nih, ga ada salahnya kita nakal dalam berpikir, artinya mengkritisi kebijakan negara ataupun perilaku swasta yang jelas-jelas menindas rakyat kecil di lingkungan sekitar kita. Setelah berpikir nakal, maka bertindak lah. Dampingi rakyat tertindas yang membutuhkan kecerdasan dan keberanian kamu kamu yang ganteng dan cantik. Dampingi mereka, sampai kita menang melawan penindasan.

Nakal pada kemiskinan itu harus

Artikel-artikel kita sebelumnya banyak banget menjelaskan soal bonus demografi. Usia produktif pemuda cukup melimpah. Data Kemenpora menyebutkan bahwa di Indonesia jumlah pemuda tidak bekerja yang berpendidikan sma 19.56 persen dan perguruan tinggi 13.80 persen dari jumlah total pemuda di Indonesia. Angka angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah lulusan SMA dan perguruan tinggi yang tidak bekerja masih mengkhawatirkan dan berdampak pada kemiskinan pemuda. Nakal terhadap kemiskinan itu solusi, bro sis. Di sini kita tidak mengarahkan kalian untuk entrepreneur (wiraswasta) atau bekerja (swasta atau pemerintahan). Yang pasti, nakal untuk melawan gengsi dalam diri kalian itu penting. Apa malunya kalian berdagang dum-dum di jalan? Justru memalukan adalah kalian terus menerus meminta uang orang tua dan berpenampilan dandy namun kantong bolong. Kalau pemuda sudah bisa lepas dari kemiskinan, perekonomian negara akan sedikit demi sedikit meningkat.

Baca Juga  Peran Pemuda dalam Penyelenggaraan PILKADA di Masa Pandemi

Nakal pada kemunafikan itu shaleh

Akhir tahun 2016 hingga pertengahan 2017 kita akrab pada fenomena politisasi agama. Banyak aktor politik yang tadinya jauh dari tradisi keagamaan, tiba-tiba menggunakan serban atau kerudung untuk menggaet perhatian pemilihnya. Atau di lain sisi, seorang yang kental tradisi keagamaannya, memakai alat ini untuk memaki orang lain atas nama kesalehan. Kita harus nakal atau dengan kata lain melawan perilaku keduanya. Menjadi shaleh tidak mesti harus diangkat ke nuansa politik, menjadi pemenang politik pun tidak mesti harus “dishaleh-shalehkan”. Kita harus menjadi generasi yang mengangkat nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam fatsun politik seorang pemuda. Ini merupakan kenakalan yang keren pada poin terakhir.

Di akhir pembahasan, kita bisa menarik benang merah bahwa nakal tidak harus selalu menuju arah yang negatif. Nakal bukan selalu persoalan atau bahkan penyakit sosial. Nakal atau ekspresi melawan yang bertujuan untuk lebih memajukan negara ini. Nakal terhadap korupsi akan menyebabkan kita terbiasa pada kejujuran. Nakal terhadap penindasan akan menyebabkan kita peka terhadap kemanusiaan. Nakal terhadap kemiskinan akan menyebabkan kita dapat nyaman dalam berpikir dan bertindak karena kantong tidak kosong. Nakal terhadap kemunafikan adalah langkah kita untuk senantiasa mendekat pada Tuhan, tanpa perlu melecehkan Tuhan. Itulah kenakalan atau perlawanan kita terhadap empat nilai yang negatif yang masih berada di lingkungan masyarakat. Sebagai pemuda dan pemudi, kamu kamu jangan hanya ganteng atau cantik, tapi harus nakal yang keren!


Bagikan