6   +   5   =  
Bagikan

Centennial, Pemuda, dan Lingkungan – Warga Muda

CENTENNIAL atau yang sering kita sebut dengan generasi Z adalah generasi muda yang lahir antara 1997-2012 (Pew Reserch, 2019). Generasi ini dianugerahi dengan banyak kemudahan. Generasi Z atau centennial merupakan generasi pertama yang mengalami kemajuan teknologi yang luar biasa, dan mampu beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi yang kemudian menjadi kebiasaan bagi generasi ini.

Generasi Z atau centennial memiliki ciri-ciri dengan anugerah akses internet. Sejak lahir, generasi Z mudah untuk berjejaring sehingga memiliki koneksi luas, multi-tasking. Konon, generasi ini cepat bosan dengan pekerjaan yang monoton, sehingga generasi ini memiliki kemampuan untuk mengerjakan banyak hal. Mereka juga memiliki sikap yang kritis, toleransi tinggi, serta menyukai hal-hal yang visual.

Bagaimana Hubungan Mereka dengan Lingkungan?

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah generasi Z pada 2020 di Indonesia tercatat sebanyak 72.8 juta jiwa, atau sekitar 27% dari 267 Juta penduduk di Indonesia. Namun dengan anugerah yang melimpah tadi, generasi ini mendapat beban berat kehancuran lingkungan yang diwariskan oleh para pendahulunya. Warisan itu berupa krisis iklim, kehancuran biodiversitas di daratan maupun lautan, serta kehilangan Luasan hutan.

Indonesia adalah negara agraris sekaligus negara maritim terbesar di dunia dengan luas wilayah Indonesia 5.193.250 km2. Satu pertiga luas Indonesia (1.919.440 km2) adalah daratan dan dua pertiganya adalah lautan.

Menurut data BPS 2020, daratan di Indonesia memiliki hutan seluas 120.599.794,73 Ha yang mencakup hutan lindung, hutan produksi, dan hutan produksi yang dapat di konservasi. Di dalamnya merupakan tempat tinggal banyak biota seperti hewan dan tumbuhan, diantaranya mulai dikategorikan endangered seperti, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae), Orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), burung Raja Udang kalung biru (Alcedo euryzona),dan masih banyak yang lainnya.

Baca Juga  Gaya Hidup Anak Muda

Sementara tumbuhan yang memiliki status yang sama disandang oleh Bunga Padma Raksasa (Raflesia arnoldi), pohon Damar (Agathis dammara), Kantung Semar (Nephentes), dan masih banyak yang lainnya juga. Biodiversitas di daratan tersebut terancam oleh alih fungsi lahan dan kebakaran hutan yang terjadi setiap tahun di Indonesia.

Di sektor kelautan, disadari atau tidak Juga mengalami dampak yang tidak kalah menghawatirkan. Sekitar 80 persen CO2 yang di produksi manusia diserap lautan mengakibatkan kebaikan suhu air laut yang mempengaruhi kehidupan di laut, mulai dari pemutihan karang, hingga pola migrasi ikan dan mengubah arus samudra.

Polusi plastik merambah di lautan. Menurut Greenpeace, 12,7 juta ton plastik berakhir di laut setiap tahunnya, dan bisa jadi berakhir di perut-perut ikan. Penambangan minyak dan gas di tengah laut menyebabkan kerusakan ekosistem laut dan banyak tumpahan minyak di laut.

Peran Centennial Terhadap Lingkungan

Lalu apakah masih ada harapan bagi generasi Z atau Centennial menyelamatkan lingkungan Jangan khawatir, tentu saja masih ada! Lalu, bagaimana caranya? Nah Generasi Centennial yang toleransinya tinggi dan suka bersosialisasi bisa membentuk komunitas atau bergabung ke komunitas peduli lingkungan.

Sikap yang menginginkan sesuatu yang instan bisa di aktualisasikan dengan mengikuti kegiatan konferensi baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional yang berkaitan dengan lingkungan. Selain mendapat asupan ilmu, kita juga dapat memperluas jaringan.

Selanjutnya, kreativitas dan anugerah akses internet yang dimiliki generasi ini bisa dimanfaatkan sebagai ruang kampanye isu-isu lingkungan dengan membuat konten-konten di platform YouTube, Instagram, Tiktok, Facebook, Twitter yang menarik, serta sesuai dengan jiwa generasi Z.

Bumi adalah milik kita bersama. Kalau bukan kita yang menjaganya, siapa lagi? Yuk, mulai menjaga bumi mulai dari sekarang! Salam Lestari!

Baca Juga  Demokrasi Mati Akibat Perang Partisipan

 

Nurul Yuliana merupakan mahasiswi Pasca Sarjana di Universitas Indonesia. Ia tertarik dengan isu-isu lingkungan dan politik. Hobinya adalah bertualang dan bersantai.


Bagikan