4   +   8   =  
Bagikan

Berdasarkan pengalaman saya bekerja untuk pemerintahan, perusahaan dan organisasi-organisasi kepemudaan.  Saya hanya menemukan dua cara untuk menggerakan anak muda, pertama dengan memanipulasinya atau yang kedua, menginspirasinya. Kedua cara ini, berlaku untuk semua generasi,  termasuk generasi baby boomers hingga generasi Z.

Manipulasi belum tentu bermuatan negatif. Bagi saya ini hanya soal strategi dan taktik semata, bukan tujuan utama.  Bahkan, kalau mau jujur, banyak dari kita telah melakukan manipulasi tanpa direncanakan sama sekali, karena  ini alamiah terjadi saat kita bersosialisasi.

Misalnya, mantra  “Ah, masa lo ga percaya sama gue, gue-kan temen lo dari dulu” adalah strategi manipulasi yang digunakan anak-anak muda untuk mendapatkan hal-hal yang mereka inginkan, seperti minjem duit, kepo sama aib orang, minta projekan hingga membongkar rahasia pribadi atau perusahaan. Nyatanya, strategi manipulasi memang benar-benar ampuh untuk mempengaruhi perilaku orang lain.

Menurut Simon Sinek, dalam buku Start With Why (2009), dari bisnis sampai politik, manipulasi berlimpah di semua bentuk penjualan dan pemasaran. Bagi Sinek manipulasi yang paling khas termasuk: memanfaatkan rasa takut dan memobilisasi tekanan kelompok.

Sinek menjelaskan, sebagai manipulator yang sangat berdaya, rasa takut sering digunakan untuk tujuan yang tidak terlalu jahat. Kita menggunakan rasa takut untuk memotivasi setiap orang  untuk memperbaiki diri atau mengembangkan diri. Sebagaimana rasa takut yang selalu digunakan dalam iklan layanan masyarakat maupun iklan komersial untuk mengubah perilaku  berbelanja dan bernegara kita.

Misalnya, kita dibuat takut berkeriput, agar kita membeli produk skin care yang mahal. Kita dibuat takut mati, agar kita semakin memegang erat nilai dan norma agama. Kita dibuat takut kepada terorisme, agar kita semakin mendukung kebijakan represif pemerintah.  Semakin kita takut, semakin banyak produk atau gagasan yang akan kita konsumsi untuk menyelamatkan diri dari ancaman-ancaman tersebut.

Baca Juga  Jangan Tanyakan Apa yang Kau Berikan Kepada Perusahaan Tapi Tanyakan Apa yang Perusahaan Berikan Kepada Hidupmu?

Yang ingin saya katakan, rasa takut itu jelas-jelas dapat dibentuk oleh konstruksi sosial, tinggal siapa yang paling pandai memodifikasi ketakutan untuk membentuk perilaku kelompok atau generasi tertentu.

Bagi saya, menakut-nakuti adalah ladang bisnis bagi semua pihak yang jago melakukan monetisasinya. Mulai dari perusahaan, pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil seringkali  memobilisasi dan mengorkestrasi rasa takut untuk tujuan-tujuan tertentu: bisa baik juga bisa buruk.

Sederhananya, rumus menakut-nakuti adalah jika anda tidak mengikuti keinginan dan kepentingan kita, akan terjadi sesuatu yang buruk pada anda. Jika anda tidak ikut organisasi kami, masa depan anda bisa menjadi sangat suram. Pada konteks ini, ketakutan menjelma menjadi tekanan kelompok.

Menurut Sinek,  tekanan kelompok  bisa ampuh karena kita percaya bahwa suara terbanyak atau pakar lebih “benar” dibandingkan pendapat kita. Tekanan kelompok, bukan ampuh karena mereka benar, tetapi lebih karena kita takut bahwa kita salah.

Jika menakut-nakuti itu ampuh, bukan berarti tidak ada cara lain

Bahaya dari strategi menakut-nakuti adalah cara ini sangat bisa diandalkan. Karena dapat mencapai keberhasilan dengan mudah, menakuti-nakuti telah menjadi tradisi dan terus-menerus dipraktikan oleh sebagian besar perusahaan, pemerintahan, dan organisasi kemasyarakatan di berbagai level.

Padahal, menurut, Thomas Friedman, pengarang  The World is Flat (2005), mengatakan bahwa para pesimis biasanya benar, tetapi para optimislah yang mengubah dunia. Sekiranya Indonesia ingin maju, kita lebih banyak membutuhkan anak-anak muda yang optimis, daripada generasi muda yang dirudung ketakutan.

Bagi  Saya, rasa takut memotivasi kita untuk menghindari sesuatu yang mengerikan, sedangkan konten inspiratif menggerakan kita mewujudkan sebuah harapan.  Kedua-duanya, setidaknya sama-sama menstimulasi anak muda, untuk membuat keputusan yang akan mengubah perilaku mereka di masa mendatang.

Baca Juga  Toleransi Tidak untuk Kaum Intoleran

Berbicara perubahan perilaku, sangat terkait bagaimana manusia membuat keputusan.  Menariknya, saat membuat keputusan,  kita lebih percaya pada emosionalitas daripada rasionalitas yang menjabarkan tumpukan angka dan fakta.

Tidak jarang keputusan kita bertentangan dengan rasionalitas. Karena secara alam bawah sadar, kita lebih mengakomodir pendekatan yang jauh lebih emosional

Richad Restak, ilmuwan neurosains, penulis The Naked Brain, menjelaskan fenomena ini dengan baik. Menurutnya, ketika kita memaksa orang untuk membuat keputusan yang bersifat rasional, hampir dapat dipastikan keputusan tersebut akan “dipikirkan secara berlebihan”. Dan,  ujung-ujungnya, upaya kita untuk mempengaruhi “keputusan-keputusan” tersebut berakhir pada penolakan.

Sebagai contoh, bagaimana membuat anak muda berhenti merokok? banyak dari para penyuluh kesehatan akan menjelaskan data dan zat-zat berbahaya yang terkandung dalam rokok dari A sampai Z dengan  sangat detail dan rasional. Dengar ceramah seperti itu, anak muda punya seribu satu alasan untuk membantah dan mengabaikannya.

Yang ingin saya sampaikan, kita pada dasarnya membuat keputusan, dan bertindak lebih sering karena dorongan emosi. Hal ini disebabkan,  sulit bagi kita menyaring semua fakta, informasi maupun analisa yang tersedia, karena keterbatasan banyak hal seperti waktu, wawasan bahkan pengalaman.

Semua ini terjadi karena kekuatan dari otak limbik. Kekuatan otak ini adalah membuat kita dapat mengendalikan keputusan naluriah dan mempengaruhi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak rasional dan tidak logis. Karena yang menggerakan kita untuk menjelajah hal-hal baru dan berbeda  adalah harapan dan impian kita, bukan logika, data, fakta dan rasionalitas.

Coba anda bayangkan, jika semua anak muda berpikir rasional dan semakin takut mengambil resiko, mungkin tidak akan ada bisnis start up, tidak ada inovasi, tidak ada kreativitas dan yang paling bahaya tidak adanya pemimpin hebat untuk menggerakan semua orang berbuat baik.

Baca Juga  Kebangkitan Kidult, Saat Yang Muda Menolak Dewasa

Keyakinan yang dibalut oleh emosionalitas akan jauh lebih kuat daripada yang didasari oleh rasionalitas, ini yang membuat keyakinan terus hidup dan mendorong segala sesuatu menjadi lebih besar dan lebih menggerakan.

Tujuannya bukanlah melibatkan anak muda yang sekedar memiliki keterampilan yang kita butuhkan, tetapi mengajak  anak muda yang mempercayai apa yang kita percayai secara emosional. Karena saling percaya dapat  menjadi mata uang bersama.

Sebagai contoh bagaimana  pendekatan emosionalitas lebih menggerakan dibandingkan rasionalitas. Pertama, BPS memaparkan bahwa pada tahun 2018 penduduk miskin di Indonesia mencapai 25,95 Juta orang atau 9,82 persen dari jumlah total penduduk.  Kedua,  ada cerita seorang lansia miskin yang berjualan kerupuk hingga larut malam untuk menyambung hidupnya hari demi hari karena ditinggal oleh seluruh keluarganya. Kedua pernyataan ini sama-sama berbicara soal kemiskinan, tetapi mememiliki potensi menggerakan yang berbeda.

Informasi pertama, hanya menambah wawasan kita, karena data-data itu bahkan tidak menggetarkan kita untuk melakukan sesuatu. Sedangkan, cerita kedua, lebih berpotensi menggerakan seseorang untuk membantu, karena cerita tersebut tidak hanya menambah wawasan, tetapi menstimulasi perubahan kesadaran.

Sebagaimana kata Joseph Stalin, seorang diktaktor Uni Soviet, “Kematian satu orang adalah tragedi, kematian jutaan orang adalah statistik.” dan sekarang,di era media sosial,  anak-anak muda lebih tersentuh oleh tragedi ketimbang statistik.

Maka dari itu, pekerjaan besarnya, bagaimana kita sebagai seseorang yang berusaha membangun komunitas-komunitas kepemudaan, harus kreatif untuk menyulap data-data permasalahan sosial yang gersang tanpa nurani,  menjadi cerita-cerita inspiratif yang menyentuh hati generasi muda untuk melakukan perbaikan sosial dan berorganisasi.

 

Wildanshah adalah Komisaris Warga muda, sebuah lembaga yang bergerak di kajian bonus demografi, youth policy, dan youth development.


Bagikan